Bergembira Karena
Tuhan
Oleh: Derek Prince
Oleh: Derek Prince
“…bergembiralah karena TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Mazmur 37:4
Perhatikan
kalimat yang pertama: “Bergembiralah karena TUHAN”. Saya pernah mendengar
seseorang bertanya begini: “Apakah Anda benar-benar menikmati ibadah Anda, atau
Anda terpaksa menahan rasa bosan pada waktu melakukannya?” Pada umumnya
sebagian besar umat manusia menganggap ibadah atau agama sebagai suatu
kewajiban yang berat, yang terpaksa dilakukan dengan bersabar dan menahan
perasaan bosan. Padahal Tuhan tidak menghendaki manusia mengalami keadaan
seperti itu dalam berhubungan dengan Dia. Ada
satu pernyataan doktrin dasar dari Gereja Presbiterian yang mengatakan:
“Kewajiban utama dan tertinggi dari manusia adalah memuliakan Tuhan, dan
menikmati-Nya selama-lamanya.” Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa Anda juga
dapat menikmati Tuhan?
Tuhan
berkata: “Bergembiralah karena Aku, maka Aku akan memberikan kepadamu apa yang
diinginkan hatimu.” Hal ini tidak berarti bahwa Tuhan akan sekedar melakukan
bagi kita segala sesuatu yang kita inginkan atau pikirkan. Karena, seringkali
keinginan manusia yang belum bertobat dan penuh kedagingan itu adalah keinginan
yang cemar, bahkan menyimpang dari kebenaran.
Seandainya
Tuhan benar-benar menuruti semua keinginan tersebut, hasil akhirnya malah akan
merugikan kita. Sebagai ganti keinginan-keinginan yang buruk itu Tuhan berjanji
untuk memberi kita keinginan-keinginan yang baru, yang saleh dan bermanfaat,
yaitu keinginan-keinginan yang sama seperti yang dimiliki Tuhan. Setelah itu Ia
akan memuaskan keinginan-keinginan tersebut, karena itu adalah
keinginan-keinginan yang diberikan-Nya sendiri kepada kita.
Tetapi
terlebih dahulu, demikian kata Daud, kita harus belajar untuk bergembira karena
Tuhan. Artinya, hubungan pribadi kita dengan Tuhan harus menjadi perkara yang
paling utama dalam kehidupan. Hubungan tersebut harus lebih utama daripada
segala hubungan lain yang yang kita miliki dan harus lebih penting daripada
segala hal lain yang menghasilkan kepuasan. Tidak boleh ada motivasi lain. Kita
berhubungan dengan Tuhan hanya karena kita ingin menyenangkan-Nya, bukan karena
kita berharap menerima sesuatu dari Dia.
Sesudah
itu akan terjadi suatu paradoks: hubungan yang tulus dengan Tuhan ini yang
didorong oleh kerinduan untuk mengenal-Nya akan mengantar kita masuk ke suatu
wilayah kepuasan yang sebelumnya tidak dapat kita bayangkan, apabila kita
nikmati.
Tanggapan Iman:
Aku akan bergembira dalam Tuhan dan tidak akan mencari sumber kepuasan lain di luar Dia.
Aku akan bergembira dalam Tuhan dan tidak akan mencari sumber kepuasan lain di luar Dia.
0 komentar:
Posting Komentar