skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Ayu ViDya
Tidak pernah ada kata mustahil, bagi mereka yang percaya akan Keajaiban Tuhan. Tetaplah berpegang pada Pengharapan, kasih dan Iman. Tuhan memberkati anda dan saya Amin
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Archivo del blog

  • ▼ 2014 (17)
    • ▼ Januari (17)
      • Rencana-Nya Bagi Hidupku
      • Tolong Aku Tuhan!
      • Betapa Berharganya Anda
      • Dimurnikan dalam Dapur Api
      • Bergembira Karena TUhan
      • Cara Menghukum Anak
      • Terbuka dihadapan Tuhan
      • Bekerja sambil berbisnis?? why Not??
      • Holy Night
      • Lirik Lagu Kalimantan Selatan
      • Cara Menghukum Anak
      • Cara Membaca Cepat
      • Anda Ada Bukan Karna Kebetulan
      • Sekolah Minggu
      • BELAJARLAH KEPADA SEMUT
      • Pribadi Adalah Hadiah
      • Peristiwa Tadi Sore

Followers

Archive

  • ▼ 2014 (17)
    • ▼ Januari (17)
      • Rencana-Nya Bagi Hidupku
      • Tolong Aku Tuhan!
      • Betapa Berharganya Anda
      • Dimurnikan dalam Dapur Api
      • Bergembira Karena TUhan
      • Cara Menghukum Anak
      • Terbuka dihadapan Tuhan
      • Bekerja sambil berbisnis?? why Not??
      • Holy Night
      • Lirik Lagu Kalimantan Selatan
      • Cara Menghukum Anak
      • Cara Membaca Cepat
      • Anda Ada Bukan Karna Kebetulan
      • Sekolah Minggu
      • BELAJARLAH KEPADA SEMUT
      • Pribadi Adalah Hadiah
      • Peristiwa Tadi Sore

Categories

  • Bisnis (1)
  • Catatanku (1)
  • Education (3)
  • Kata Bijak (2)
  • Lirik Lagu (2)
  • Renungan (7)
  • Sekolah Minggu (1)

Search

Subscribe RSS

About

Copyright © 2008 Ayu Vidya. All Rights Reserved.
Design by Padd IT Solutions - Blogger Notes Template by Blogger Templates
Distributed by Deluxe Templates

Ayu Vidya

Tentangku dan apa yang aku pikirkan.. Kreasi, bisnis, semua yang pernah aku dengar, lihat dan rasakan

Search

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • Bisnis (1)
  • Catatanku (1)
  • Education (3)
  • Kata Bijak (2)
  • Lirik Lagu (2)
  • Renungan (7)
  • Sekolah Minggu (1)

Archives

  • ▼ 2014 (17)
    • ▼ Januari (17)
      • Rencana-Nya Bagi Hidupku
      • Tolong Aku Tuhan!
      • Betapa Berharganya Anda
      • Dimurnikan dalam Dapur Api
      • Bergembira Karena TUhan
      • Cara Menghukum Anak
      • Terbuka dihadapan Tuhan
      • Bekerja sambil berbisnis?? why Not??
      • Holy Night
      • Lirik Lagu Kalimantan Selatan
      • Cara Menghukum Anak
      • Cara Membaca Cepat
      • Anda Ada Bukan Karna Kebetulan
      • Sekolah Minggu
      • BELAJARLAH KEPADA SEMUT
      • Pribadi Adalah Hadiah
      • Peristiwa Tadi Sore

About Me

Foto Saya
Ayu ViDya
Tidak pernah ada kata mustahil, bagi mereka yang percaya akan Keajaiban Tuhan. Tetaplah berpegang pada Pengharapan, kasih dan Iman. Tuhan memberkati anda dan saya Amin
Lihat profil lengkapku

Ayu Vidya

Tentangku dan apa yang aku pikirkan.. Kreasi, bisnis, semua yang pernah aku dengar, lihat dan rasakan

Kamis, 30 Januari 2014

Rencana-Nya Bagi Hidupku



Rencana-Nya Bagi Hidupku
Oleh: Derek Prince


Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu! Mazmur 138:8
Alangkah senangnya mengetahui bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana bagi kita masing-masing! Daud tidak berkata bahwa Tuhan akan menggenapi atau menyelesaikan rencanaku. Ia berkata bahwa Tuhan akan menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya bagiku. Ada suatu perbedaan besar antara kedua hal itu. Mungkin saya mempunyai suatu rencana, sedangkan Tuhan juga mempunyai suatu rencana yang berbeda. Tuhan tidak menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana saya. Ia hanya menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana-Nya.
            Jaminan Tuhan itu terdapat dalam kata-kata berikutnya: “Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.” Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “kasih setia” itu memiliki arti yang lebih mendalam, yaitu kesetiaan yang menyebabkan Tuhan tetap memenuhi komitmen-Nya terhadap ikatan janji yang telah dibuat-Nya dengan kita. Komitmen Tuhan untuk menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya dalam kehidupan kita bahkan berlanjut hingga ke dalam kekekalan.
            Bagian penutup ayat ini seakan-akan merupakan jeritan keputus-asaan Daud: “Janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” Saya teringat ketika pada suatu hari saya melayani seorang wanita Kristen yang berbaring di tempat tidur dan sedang menantikan ajalnya akibat penyakit kanker yang dideritanya. Wanita itu mengambil Alkitab Living Bible (Firman Allah yang Hidup) dari lemari kecil di sebelah tempat tidurnya lalu dengan suara keras membaca kata-kata Daud itu: “Janganlah Engkau meninggalkan aku karena Engkaulah yang membuat aku!”.
Dengan cara itu wanita tersebut secara pribadi menegaskan keyakinannya bahwa penyakit, penderitaan atau kematian sekalipun tidak akan dapat menghalangi kasih setia Tuhan dalam menggenapi rencana-Nya baginya yang akan membuat ia mencapai kemenangan pada akhirnya.
            Jaminan yang sama masih tetap berlaku bagi kita semua yang telah memasuki ikatan janji yang ditawarkan Tuhan kepada manusia melalui Yesus. Tuhanlah yang menjadikan kita, Ia pun tidak akan meninggalkan kita. Mungkin bukan rencana kita, tetapi rencana- Nyalah yang pasti akan digenapi. Rencana tersebut akan tetap teguh, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini.
 
Tanggapan Iman:
Aku menerima rencana Tuhan bagiku, sekalipun mungkin berbeda dengan rencanaku sendiri, dan aku percaya Ia akan menggenapinya.
Diposting oleh Ayu ViDya di 17.32 0 komentar
Label: Renungan

Rabu, 29 Januari 2014

Tolong Aku Tuhan!



Tolong Aku Tuhan!
Oleh: Derek Prince

Tuhan Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku
Mazmur 30:3
 
            Salah satu ciri Alkitab yang menjadi berkat bagi saya adalah kesederhanaannya yang luar biasa. Alkitab menyampaikan hal-hal yang paling mendalam dengan kata-kata yang paling sederhana dan singkat. Dalam Alkitab bahasa Inggris setiap kata dari ayat yang dikutip di atas itu terdiri dari satu suku kata saja. “O Lord my God, I called to you for help and you healed me.” Seluruhnya terdiri dari 14 kata yang singkat dan sederhana, namun betapa dalamnya kebenaran yang diungkapkan ayat ini!
Dalam seluruh Alkitab, Tuhan mengungkapkan diri-Nya sebagai Penyembuh umat-Nya. Ia berkata kepada bani Israel sesudah melepaskan mereka dari perbudakan di negeri Mesir: “…sebab Aku TUHAN-lah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26). Atau dengan kata-kata lain: ”Akulah TUHAN Doktermu.” Dua belas abad kemudian Ia menegaskan kembali pernyataan-Nya: “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah” (Maleakhi 3:6).
Kepada umat Kristen yang berada dalam Perjanjian Baru Yakobus menulis: “Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia (Yakobus 5:14-15).
Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena sekarang ini ada banyak ahli kedokteran, jururawat dan orang-orang yang pekerjaannya menolong orang-orang sakit dan lemah. Tetapi, pada akhirnya yang memberikan kesembuhan adalah Tuhan sendiri. Sarana atau orang yang dipakai untuk menyembuhkan itu bermacam-macam, tetapi Sumber yang memberikan kesembuhan itu selalu sama.
Mungkin Anda sedang menderita suatu penyakit atau mempunyai masalah dengan keadaan jasmani Anda, atau Anda memikul suatu beban berat yang sebenarnya ingin disingkirkan Tuhan dari kehidupan Anda. Sudahkah terpikir oleh Anda untuk berseru dan meminta tolong kepada Tuhan? Perhatikanlah betapa sederhananya kata-kata dalam ayat itu: “Kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.” Tetapi, kadang-kadang kita justru lupa melakukan hal-hal yang sederhana dan begitu mudah. Apa salahnya membawa persoalan Anda kepada Tuhan? Saya sudah sering melakukan hal itu dan Tuhan pun telah menyembuhkan saya. Saya percaya Ia juga akan melakukan hal yang sama bagi Anda.
Tanggapan Iman:
Tuhan, Engkaulah Penciptaku dan Penebusku. Aku percaya Engkau telah menyelamatkan jiwaku, oleh karena itu aku juga percaya bahwa Engkau akan menyembuhkan penyakitku.
Diposting oleh Ayu ViDya di 17.34 0 komentar
Label: Renungan

Selasa, 28 Januari 2014

Betapa Berharganya Anda



Betapa Berharganya Anda?
Oleh: Derek Prince


Lebih dari lima puluh tahun, saya mencoba untuk menolong orang-orang dengan berbagai masalah di dalam hidup mereka. Dan saya tiba pada suatu kesimpulan bahwa : masalah kita yang paling mendasar sebagai manusia adalah  kita tidak pernah menyadari betapa berharganya kita ini.
            Sebagai akibatnya, kita melakukan banyak kesalahan yang fatal. Kita seperti halnya seorang yang sangat beruntung, namun menjual seluruh harta warisan kita untuk membeli hal-hal yang tidak berguna seperti kepuasan seksual semalam, sebatang mariyuana, pesta alkohol yang memabukkan, ataupun berfoya-foya dengan uang yang kita miliki.
            Atau kita mungkin menghargai diri kita sedikit lebih tinggi, yaitu dengan mengejar posisi yang bergengsi di bidang politik, atau di panggung hiburan dunia,  bahkan  mungkin mengejar posisi terhormat di kantor-kantor gereja. Betapapun bergengsinya semua itu namun tidak dapat dibandingkan dengan nilai dari harta warisan yang telah kita peroleh.
            Jika kita ingin mengetahui seberapa berharganya diri kita sebagai manusia, kita harus mengingat bagaimana Adam, nenek moyang kita diciptakan dengan cara yang begitu unik dan sangat menakjubkan.
Mukjizat dari penciptaan Adam
            Di dalam Injil Yohanes 1:1-3, kita menemukan bahwa pribadi yang sesungguhnya, menciptakan apa yang telah ada bukanlah Allah Bapa, tetapi Firman Tuhan, yang selalu bersama-sama dengan Allah di dalam kekekalan – Pribadi yang kemudian dinyatakan di dalam sejarah umat manusia sebagai Yesus dari Nazareth : “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Firman Tuhan), dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan “Penciptaan, secara keseluruhan, terjadi dengan memperkatakan firman Tuhan : “Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibrani 11:3).Sebab Dia berfirman dan semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada”(Mazmur 33:9). Namun penciptaan Adam, yang digambarkan di dalam Kejadian 2:7, sangatlah berbeda: “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Perhatikanlah hal tersebut! Allah berlutut, mengambil tanah dengan tangan-Nya, mengaduknya dengan air dan membentuknya menjadi tubuh manusia. Itulah yang terjadi, bagian paling sempurna dari Alkitab yang pernah diciptakan, lebih agung dari karya agungnya Michaelangelo. Tetapi manusia belum memiliki hidup pada saat itu. Kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi. Sang Pencipta mencondongkan tubuh-Nya dan menaruh bibir-Nya di atas bibir patung tanah liat hasil ciptaan-Nya tersebut, dan menghembuskan nafas-Nya melalui lubang hidung-Nya ke dalam lubang hidung ciptaan-Nya tersebut. Ketika nafas-Nya berhembus ke dalam tubuh patung tersebut, nafas itu merubahnya menjadi makhluk hidup dengan seluruh organ tubuhnya yang berfungsi sempurna, dengan roh yang luar biasa, dan dengan kemampuan intelektual serta emosinya sebagai manusia yang telah mampu merespon. Tidak ada makhluk lain yang pernah diciptakan dengan cara yang seperti itu.
            Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan mukjizat  tersebut sangatlah gamblang. Bahasa Ibrani merupakan salah satu satu bahasa dari beberapa bahasa yang mampu menggambarkan kejadian tersebut secara jelas. Bunyi dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai nafas adalah yipakh. Kata tersebut mengandung arti “letupan” yang disertai dengan kekuatan yang besar, terus menerus melepaskan  udara dari tenggorokan. Pada saat Tuhan membungkuk dan menghembuskan nafas-Nya melalui mulut dan hidung patung tanah liat tersebut, bukan dengan lemah lembut namun dengan sekuat tenaga  sehingga patung tanah liat tersebut menerima impartasi kehidupan Allah yang luar biasa!
            Pada saat itu juga, manusia menjadi  tiga kesatuan yang hidup, komposisi dari Roh, Jiwa dan Tubuh. Roh didapat dari hembusan nafas-Nya Allah; Tubuhnya adalah tanah liat yang telah berubah menjadi daging yang memiliki denyut kehidupan; jiwanya, terdiri dari kesatuan tubuh dan rohnya, menjadi sesuatu yang sangat unik, berbeda dari yang lainnya dan mampu untuk membuat keputusan-saya mau atau saya tidak mau.
            Bersamaan dengan saat, dimana Tuhan memberikan pasangan hidup, Adam ditentukan untuk berkuasa atas dunia sebagai wakilnya Allah.  Ketiga kesatuan yang ada dalam dirinya secara alami sangat mirip dengan ketiga sifat Allah. Secara lahiriah dia adalah gambaran Sang Penciptanya. Sesungguhnya baik bentuk lahiriah maupun batiniahnya, dia adalah gambaran Allah yang sempurna dan unik yang pernah ada di muka bumi ini.
            Selanjutnya, Adam dan Hawa menikmati persekutuan pribadi dengan Allah. Setiap hari, setiap saat Tuhan bersama-sama dengan mereka. Siapa yang tahu apa yang dibicarakan Allah dengan mereka ? Kita tahu, Allah memberi Adam hak khusus untuk menamai semua makhluk hidup yang ada. 
            Tragedi terbesar di dalam sejarah umat manusia terjadi. Tipu muslihat Iblis, membuat Adam dan Hawa menjual warisan yang diberikan oleh Allah demi buah tersebut. Ketidaktaatan ini telah mempengaruhi setiap bagian dari kehidupan Adam. Rohnya terpisah dari Allah dan mati. Dalam jiwanya selalu memberontak  kepada Sang Pencipta.  Tubuhnya menjadi rentan terhadap sakit 6penyakit, dimakan usia dan mati.
Tuhan sudah memperingatkan Adam tentang pohon pengetahuan tersebut, ”Pada saat kamu memakan buah tersebut, kamu pasti mati” Pada saat itu jugalah roh Adam mati; tubuhnya tidak akan berumur lebih dari 900 tahun.(Kejadian 2:17) Mukjizat dari penebusan Yesus
            Konsekuensi dari ketidak-taatan Adam sangatlah buruk, namun hal tersebut justru memberi penjelasan tentang sifat Allah yang sesungguhnya : Kasih Allah yang begitu sangat dalam. Allah tidak pernah menyerah kepada Adam dan keturunannya. Dia selalu rindu untuk membawa kita kembali kepada-Nya.  
            Hal tersebut dengan indah dikatakan di dalan Yakobus 4:5 (NAS): “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita diinginkan-Nya dengan cemburu”- roh yang dihembuskan ke dalam diri Adam pada waktu dia diciptakan. Yang luar biasa adalah bahwa Allah terus menerus merindukan persekutuan pribadi yang pernah ada di antara Dia dan Adam, namun karena pemberontakan Adam persekutuan tersebut terpecah, pemberontakan yang terus menerus ada di dalam semua keturunan Adam.
            Sehingga berapapun harganya, Allah membuat jalan agar kita dapat dipulihkan. Dia mengirim Yesus “untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang”(Lukas19:10). Melalui pengorbanannya di kayu salib, Yesus membuat kita layak untuk diampuni dan dibersihkan dari dosa dan menjadi keluarga Allah sendiri.
            Di dalam Matius 13:45-46, Yesus membuat perumpamaan yang bagi saya secara pribadi sangat indah dalam melukiskan tentang penyelamatan kita: “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
            Bagi saya hal tersebut menggambarkan penyelamatan jiwa manusia. Yesus adalah pedagang yang dimaksud, bukan wisatawan yang datang hanya untuk melihat-lihat, tetapi seorang penjual mutiara yang berpengalaman yang benar-benar tahu seberapa tinggi nilai setiap mutiara. Mutiara yang Dia beli adalah jiwa manusia, milik anda dan saya. Dia membelinya dengan seluruh harta yang Dia miliki.
Melihat kepada budaya yang kita miliki, saya melihat suatu gambaran pada saat seorang pedagang memberikan  kabar kepada istrinya.
             “Sayang, aku telah menjual mobil kita”
             “Kau menjual mobil kita? Nggak masalah, paling tidak kita masih punya tempat untuk berteduh.”
             “Tidak, aku juga sudah menjual rumah kita!”
             “Apa yang telah membuatmu melakukan semua itu?”
             “Aku menemukan sebuah mutiara terindah yang pernah aku lihat. Seumur hidupku aku mencari mutiara yang seperti itu. Aku akan bayar berapapun harganya, tunggu sampai kau melihatnya!”
            Lalu apakah artinya bagi kita, bagi anda dan saya? Setiap kita mungkin telah menganggap bahwa diri kita hanyalah sebuah mutiara yang tidak berharga.
            Ingatlah, Yesus telah membayar berapapun harga yang harus dibayar-Nya untuk mendapatkan kita kembali kepada-Nya. Walaupun Dia adalah Allah semesta alam, Dia telah menanggalkan semuanya itu dan menderita sampai mati di kayu salib.  Dia tidak punya apa-apa lagi. Jubah dan pusara tempat dia dikuburkan, keduanya merupakan hasil pinjaman. “…yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”(2 Korintus 8:9) 
            Mungkin anda tidak pernah berpikir pentingnya melihat siapa diri kita sebenarnya. Anda kehilangan gambar diri anda. Mungkin karena anda melihat ke belakang ke kehidupan yang pahit dan mengecewakan: kehilangan masa kanak-kanak ataupun masa kanak-kanak yang tidak bahagia, perkawinan yang berakhir dengan perceraian, atau karir yang tidak tercapai, ataupun tahun-tahun yang dilewatkan dengan  menelan obat-obatan dan alcohol. Masa lalu dan masa depan anda membawa satu pesan yang sama: KEGAGALAN!
            Tapi tidak untuk Yesus! Dia sangat mengasihi saudara sehingga Dia mau manyerahkan apa saja agar anda bisa kembali pada-Nya. Mengulangi perkataan Rasul Paulus, jadikan hal itu rhema bagi diri anda : “….Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Katakan lagi,”…. Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Katakan lagi,”……Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20) 
            Sekarang lihatlah diri anda sebagai sebuah mutiara yang ada dalam genggaman Yesus. Dengarkan apa yang dikatakan-Nya pada anda, ”Kamu sangat begitu indah! Tidak sia-sia Aku menjual segalanya agar bisa memilikimu. Sekarang kamu telah menjadi milik-Ku selamanya!”
            Anda tidak dapat melakukan apapun untuk membayar semua ini. Anda tidak dapat mengubah diri anda ataupun membuat diri anda menjadi baik. Yang anda dapat lakukan hanyalah menerima apa yang sudah Yesus lakukan dan bersyukur selalu kepada-Nya!
Anda milik-Nya untuk selamanya!
Diposting oleh Ayu ViDya di 17.32 0 komentar
Label: Renungan

Dimurnikan dalam Dapur Api



Dimurnikan dalam Dapur Api
Oleh: Derek Prince

Janji TUHAN adalah janji yang murni (Perkataan Tuhan adalah perkataan yang tidak ada cacatnya, versi bahasa Inggris) bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Mazmur 12:7
Perkataan (janji) yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah kata-kata yang terdapat dalam Alkitab. Perkataan tersebut benar-benar tidak ada cacatnya – tidak ada kesalahannya atau kekeliruannya – suatu kebenaran yang mutlak dan dapat dipercaya sepenuhnya. Anda mungkin meragukan pernyataan tersebut, karena Anda pun mengetahui bahwa kata-kata itu disampaikan manusia sebagai perantaranya, padahal manusia adalah makhluk yang lemah, cenderung berbuat salah dan banyak melakukan kekeliruan. (Dan berbagai kecerobohan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang menjadi perantara itu memang sering didapati dalam Alkitab). Jika demikian, bagaimana mungkin isi Alkitab itu merupakan kebenaran yang memiliki otoritas mutlak yang tak ada kesalahannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut Daud memberikan ilustrasi yang menarik sekali yaitu tentang orang yang memurnikan perak dalam sebuah tanur yang terbuat dari tanah liat. (Tanur seperti itu hingga sekarang masih banyak dipakai di kawasan Timur Tengah). Dalam gambaran Daud itu terdapat tiga unsur utama: tanur dari tanah liat; perak yang harus dimurnikan; dan api yang memurnikan.
Tanur dari tanah liat itu menggambarkan makhluk manusia yang dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyampaikan perkataan [Sabda]-Nya. Perak dalam gambaran Daud itu menggambarkan perkataan [Sabda] Tuhan yang disampaikan. Sedangkan api yang memurnikan itu menggambarkan pekerjaan Roh Kudus. Perak itu menjalani proses pemurnian hingga “tujuh kali”. Dalam Alkitab angka tujuh secara khusus digabungkan dengan Roh Kudus sebagai “tujuh obor menyala-nyala” (Wahyu 4:5). Selain itu, angka tujuh juga menggambarkan kesempurnaan.
Pada waktu kata-kata Tuhan disampaikan kepada kita melalui tanur yang terbuat dari tanah liat atau insan manusia itu, kata-kata tersebut dimurnikan secara sempurna oleh api Roh Kudus. Semua “kotoran” berupa kesalahan atau kecerobohan manusia telah dikeluarkan sama sekali. Dengan demikian kata-kata tersebut menjadi sempurna, tak ada kesalahannya.
“Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (II Petrus 1:21).
Tanggapan Iman:
“Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih daripada ribuan keping emas dan perak” (Mazmur119:72).
Diposting oleh Ayu ViDya di 17.31 0 komentar
Label: Renungan
Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)

Rencana-Nya Bagi Hidupku



Rencana-Nya Bagi Hidupku
Oleh: Derek Prince


Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu! Mazmur 138:8
Alangkah senangnya mengetahui bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana bagi kita masing-masing! Daud tidak berkata bahwa Tuhan akan menggenapi atau menyelesaikan rencanaku. Ia berkata bahwa Tuhan akan menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya bagiku. Ada suatu perbedaan besar antara kedua hal itu. Mungkin saya mempunyai suatu rencana, sedangkan Tuhan juga mempunyai suatu rencana yang berbeda. Tuhan tidak menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana saya. Ia hanya menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana-Nya.
            Jaminan Tuhan itu terdapat dalam kata-kata berikutnya: “Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.” Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “kasih setia” itu memiliki arti yang lebih mendalam, yaitu kesetiaan yang menyebabkan Tuhan tetap memenuhi komitmen-Nya terhadap ikatan janji yang telah dibuat-Nya dengan kita. Komitmen Tuhan untuk menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya dalam kehidupan kita bahkan berlanjut hingga ke dalam kekekalan.
            Bagian penutup ayat ini seakan-akan merupakan jeritan keputus-asaan Daud: “Janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” Saya teringat ketika pada suatu hari saya melayani seorang wanita Kristen yang berbaring di tempat tidur dan sedang menantikan ajalnya akibat penyakit kanker yang dideritanya. Wanita itu mengambil Alkitab Living Bible (Firman Allah yang Hidup) dari lemari kecil di sebelah tempat tidurnya lalu dengan suara keras membaca kata-kata Daud itu: “Janganlah Engkau meninggalkan aku karena Engkaulah yang membuat aku!”.
Dengan cara itu wanita tersebut secara pribadi menegaskan keyakinannya bahwa penyakit, penderitaan atau kematian sekalipun tidak akan dapat menghalangi kasih setia Tuhan dalam menggenapi rencana-Nya baginya yang akan membuat ia mencapai kemenangan pada akhirnya.
            Jaminan yang sama masih tetap berlaku bagi kita semua yang telah memasuki ikatan janji yang ditawarkan Tuhan kepada manusia melalui Yesus. Tuhanlah yang menjadikan kita, Ia pun tidak akan meninggalkan kita. Mungkin bukan rencana kita, tetapi rencana- Nyalah yang pasti akan digenapi. Rencana tersebut akan tetap teguh, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini.
 
Tanggapan Iman:
Aku menerima rencana Tuhan bagiku, sekalipun mungkin berbeda dengan rencanaku sendiri, dan aku percaya Ia akan menggenapinya.
Diposting oleh Ayu ViDya

Kamis, 30 Januari 2014

Label: Renungan 0 komentar
di 17.32

Tolong Aku Tuhan!



Tolong Aku Tuhan!
Oleh: Derek Prince

Tuhan Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku
Mazmur 30:3
 
            Salah satu ciri Alkitab yang menjadi berkat bagi saya adalah kesederhanaannya yang luar biasa. Alkitab menyampaikan hal-hal yang paling mendalam dengan kata-kata yang paling sederhana dan singkat. Dalam Alkitab bahasa Inggris setiap kata dari ayat yang dikutip di atas itu terdiri dari satu suku kata saja. “O Lord my God, I called to you for help and you healed me.” Seluruhnya terdiri dari 14 kata yang singkat dan sederhana, namun betapa dalamnya kebenaran yang diungkapkan ayat ini!
Dalam seluruh Alkitab, Tuhan mengungkapkan diri-Nya sebagai Penyembuh umat-Nya. Ia berkata kepada bani Israel sesudah melepaskan mereka dari perbudakan di negeri Mesir: “…sebab Aku TUHAN-lah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26). Atau dengan kata-kata lain: ”Akulah TUHAN Doktermu.” Dua belas abad kemudian Ia menegaskan kembali pernyataan-Nya: “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah” (Maleakhi 3:6).
Kepada umat Kristen yang berada dalam Perjanjian Baru Yakobus menulis: “Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia (Yakobus 5:14-15).
Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena sekarang ini ada banyak ahli kedokteran, jururawat dan orang-orang yang pekerjaannya menolong orang-orang sakit dan lemah. Tetapi, pada akhirnya yang memberikan kesembuhan adalah Tuhan sendiri. Sarana atau orang yang dipakai untuk menyembuhkan itu bermacam-macam, tetapi Sumber yang memberikan kesembuhan itu selalu sama.
Mungkin Anda sedang menderita suatu penyakit atau mempunyai masalah dengan keadaan jasmani Anda, atau Anda memikul suatu beban berat yang sebenarnya ingin disingkirkan Tuhan dari kehidupan Anda. Sudahkah terpikir oleh Anda untuk berseru dan meminta tolong kepada Tuhan? Perhatikanlah betapa sederhananya kata-kata dalam ayat itu: “Kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.” Tetapi, kadang-kadang kita justru lupa melakukan hal-hal yang sederhana dan begitu mudah. Apa salahnya membawa persoalan Anda kepada Tuhan? Saya sudah sering melakukan hal itu dan Tuhan pun telah menyembuhkan saya. Saya percaya Ia juga akan melakukan hal yang sama bagi Anda.
Tanggapan Iman:
Tuhan, Engkaulah Penciptaku dan Penebusku. Aku percaya Engkau telah menyelamatkan jiwaku, oleh karena itu aku juga percaya bahwa Engkau akan menyembuhkan penyakitku.
Diposting oleh Ayu ViDya

Rabu, 29 Januari 2014

Label: Renungan 0 komentar
di 17.34

Betapa Berharganya Anda



Betapa Berharganya Anda?
Oleh: Derek Prince


Lebih dari lima puluh tahun, saya mencoba untuk menolong orang-orang dengan berbagai masalah di dalam hidup mereka. Dan saya tiba pada suatu kesimpulan bahwa : masalah kita yang paling mendasar sebagai manusia adalah  kita tidak pernah menyadari betapa berharganya kita ini.
            Sebagai akibatnya, kita melakukan banyak kesalahan yang fatal. Kita seperti halnya seorang yang sangat beruntung, namun menjual seluruh harta warisan kita untuk membeli hal-hal yang tidak berguna seperti kepuasan seksual semalam, sebatang mariyuana, pesta alkohol yang memabukkan, ataupun berfoya-foya dengan uang yang kita miliki.
            Atau kita mungkin menghargai diri kita sedikit lebih tinggi, yaitu dengan mengejar posisi yang bergengsi di bidang politik, atau di panggung hiburan dunia,  bahkan  mungkin mengejar posisi terhormat di kantor-kantor gereja. Betapapun bergengsinya semua itu namun tidak dapat dibandingkan dengan nilai dari harta warisan yang telah kita peroleh.
            Jika kita ingin mengetahui seberapa berharganya diri kita sebagai manusia, kita harus mengingat bagaimana Adam, nenek moyang kita diciptakan dengan cara yang begitu unik dan sangat menakjubkan.
Mukjizat dari penciptaan Adam
            Di dalam Injil Yohanes 1:1-3, kita menemukan bahwa pribadi yang sesungguhnya, menciptakan apa yang telah ada bukanlah Allah Bapa, tetapi Firman Tuhan, yang selalu bersama-sama dengan Allah di dalam kekekalan – Pribadi yang kemudian dinyatakan di dalam sejarah umat manusia sebagai Yesus dari Nazareth : “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Firman Tuhan), dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan “Penciptaan, secara keseluruhan, terjadi dengan memperkatakan firman Tuhan : “Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibrani 11:3).Sebab Dia berfirman dan semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada”(Mazmur 33:9). Namun penciptaan Adam, yang digambarkan di dalam Kejadian 2:7, sangatlah berbeda: “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Perhatikanlah hal tersebut! Allah berlutut, mengambil tanah dengan tangan-Nya, mengaduknya dengan air dan membentuknya menjadi tubuh manusia. Itulah yang terjadi, bagian paling sempurna dari Alkitab yang pernah diciptakan, lebih agung dari karya agungnya Michaelangelo. Tetapi manusia belum memiliki hidup pada saat itu. Kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi. Sang Pencipta mencondongkan tubuh-Nya dan menaruh bibir-Nya di atas bibir patung tanah liat hasil ciptaan-Nya tersebut, dan menghembuskan nafas-Nya melalui lubang hidung-Nya ke dalam lubang hidung ciptaan-Nya tersebut. Ketika nafas-Nya berhembus ke dalam tubuh patung tersebut, nafas itu merubahnya menjadi makhluk hidup dengan seluruh organ tubuhnya yang berfungsi sempurna, dengan roh yang luar biasa, dan dengan kemampuan intelektual serta emosinya sebagai manusia yang telah mampu merespon. Tidak ada makhluk lain yang pernah diciptakan dengan cara yang seperti itu.
            Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan mukjizat  tersebut sangatlah gamblang. Bahasa Ibrani merupakan salah satu satu bahasa dari beberapa bahasa yang mampu menggambarkan kejadian tersebut secara jelas. Bunyi dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai nafas adalah yipakh. Kata tersebut mengandung arti “letupan” yang disertai dengan kekuatan yang besar, terus menerus melepaskan  udara dari tenggorokan. Pada saat Tuhan membungkuk dan menghembuskan nafas-Nya melalui mulut dan hidung patung tanah liat tersebut, bukan dengan lemah lembut namun dengan sekuat tenaga  sehingga patung tanah liat tersebut menerima impartasi kehidupan Allah yang luar biasa!
            Pada saat itu juga, manusia menjadi  tiga kesatuan yang hidup, komposisi dari Roh, Jiwa dan Tubuh. Roh didapat dari hembusan nafas-Nya Allah; Tubuhnya adalah tanah liat yang telah berubah menjadi daging yang memiliki denyut kehidupan; jiwanya, terdiri dari kesatuan tubuh dan rohnya, menjadi sesuatu yang sangat unik, berbeda dari yang lainnya dan mampu untuk membuat keputusan-saya mau atau saya tidak mau.
            Bersamaan dengan saat, dimana Tuhan memberikan pasangan hidup, Adam ditentukan untuk berkuasa atas dunia sebagai wakilnya Allah.  Ketiga kesatuan yang ada dalam dirinya secara alami sangat mirip dengan ketiga sifat Allah. Secara lahiriah dia adalah gambaran Sang Penciptanya. Sesungguhnya baik bentuk lahiriah maupun batiniahnya, dia adalah gambaran Allah yang sempurna dan unik yang pernah ada di muka bumi ini.
            Selanjutnya, Adam dan Hawa menikmati persekutuan pribadi dengan Allah. Setiap hari, setiap saat Tuhan bersama-sama dengan mereka. Siapa yang tahu apa yang dibicarakan Allah dengan mereka ? Kita tahu, Allah memberi Adam hak khusus untuk menamai semua makhluk hidup yang ada. 
            Tragedi terbesar di dalam sejarah umat manusia terjadi. Tipu muslihat Iblis, membuat Adam dan Hawa menjual warisan yang diberikan oleh Allah demi buah tersebut. Ketidaktaatan ini telah mempengaruhi setiap bagian dari kehidupan Adam. Rohnya terpisah dari Allah dan mati. Dalam jiwanya selalu memberontak  kepada Sang Pencipta.  Tubuhnya menjadi rentan terhadap sakit 6penyakit, dimakan usia dan mati.
Tuhan sudah memperingatkan Adam tentang pohon pengetahuan tersebut, ”Pada saat kamu memakan buah tersebut, kamu pasti mati” Pada saat itu jugalah roh Adam mati; tubuhnya tidak akan berumur lebih dari 900 tahun.(Kejadian 2:17) Mukjizat dari penebusan Yesus
            Konsekuensi dari ketidak-taatan Adam sangatlah buruk, namun hal tersebut justru memberi penjelasan tentang sifat Allah yang sesungguhnya : Kasih Allah yang begitu sangat dalam. Allah tidak pernah menyerah kepada Adam dan keturunannya. Dia selalu rindu untuk membawa kita kembali kepada-Nya.  
            Hal tersebut dengan indah dikatakan di dalan Yakobus 4:5 (NAS): “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita diinginkan-Nya dengan cemburu”- roh yang dihembuskan ke dalam diri Adam pada waktu dia diciptakan. Yang luar biasa adalah bahwa Allah terus menerus merindukan persekutuan pribadi yang pernah ada di antara Dia dan Adam, namun karena pemberontakan Adam persekutuan tersebut terpecah, pemberontakan yang terus menerus ada di dalam semua keturunan Adam.
            Sehingga berapapun harganya, Allah membuat jalan agar kita dapat dipulihkan. Dia mengirim Yesus “untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang”(Lukas19:10). Melalui pengorbanannya di kayu salib, Yesus membuat kita layak untuk diampuni dan dibersihkan dari dosa dan menjadi keluarga Allah sendiri.
            Di dalam Matius 13:45-46, Yesus membuat perumpamaan yang bagi saya secara pribadi sangat indah dalam melukiskan tentang penyelamatan kita: “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
            Bagi saya hal tersebut menggambarkan penyelamatan jiwa manusia. Yesus adalah pedagang yang dimaksud, bukan wisatawan yang datang hanya untuk melihat-lihat, tetapi seorang penjual mutiara yang berpengalaman yang benar-benar tahu seberapa tinggi nilai setiap mutiara. Mutiara yang Dia beli adalah jiwa manusia, milik anda dan saya. Dia membelinya dengan seluruh harta yang Dia miliki.
Melihat kepada budaya yang kita miliki, saya melihat suatu gambaran pada saat seorang pedagang memberikan  kabar kepada istrinya.
             “Sayang, aku telah menjual mobil kita”
             “Kau menjual mobil kita? Nggak masalah, paling tidak kita masih punya tempat untuk berteduh.”
             “Tidak, aku juga sudah menjual rumah kita!”
             “Apa yang telah membuatmu melakukan semua itu?”
             “Aku menemukan sebuah mutiara terindah yang pernah aku lihat. Seumur hidupku aku mencari mutiara yang seperti itu. Aku akan bayar berapapun harganya, tunggu sampai kau melihatnya!”
            Lalu apakah artinya bagi kita, bagi anda dan saya? Setiap kita mungkin telah menganggap bahwa diri kita hanyalah sebuah mutiara yang tidak berharga.
            Ingatlah, Yesus telah membayar berapapun harga yang harus dibayar-Nya untuk mendapatkan kita kembali kepada-Nya. Walaupun Dia adalah Allah semesta alam, Dia telah menanggalkan semuanya itu dan menderita sampai mati di kayu salib.  Dia tidak punya apa-apa lagi. Jubah dan pusara tempat dia dikuburkan, keduanya merupakan hasil pinjaman. “…yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”(2 Korintus 8:9) 
            Mungkin anda tidak pernah berpikir pentingnya melihat siapa diri kita sebenarnya. Anda kehilangan gambar diri anda. Mungkin karena anda melihat ke belakang ke kehidupan yang pahit dan mengecewakan: kehilangan masa kanak-kanak ataupun masa kanak-kanak yang tidak bahagia, perkawinan yang berakhir dengan perceraian, atau karir yang tidak tercapai, ataupun tahun-tahun yang dilewatkan dengan  menelan obat-obatan dan alcohol. Masa lalu dan masa depan anda membawa satu pesan yang sama: KEGAGALAN!
            Tapi tidak untuk Yesus! Dia sangat mengasihi saudara sehingga Dia mau manyerahkan apa saja agar anda bisa kembali pada-Nya. Mengulangi perkataan Rasul Paulus, jadikan hal itu rhema bagi diri anda : “….Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Katakan lagi,”…. Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Katakan lagi,”……Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20) 
            Sekarang lihatlah diri anda sebagai sebuah mutiara yang ada dalam genggaman Yesus. Dengarkan apa yang dikatakan-Nya pada anda, ”Kamu sangat begitu indah! Tidak sia-sia Aku menjual segalanya agar bisa memilikimu. Sekarang kamu telah menjadi milik-Ku selamanya!”
            Anda tidak dapat melakukan apapun untuk membayar semua ini. Anda tidak dapat mengubah diri anda ataupun membuat diri anda menjadi baik. Yang anda dapat lakukan hanyalah menerima apa yang sudah Yesus lakukan dan bersyukur selalu kepada-Nya!
Anda milik-Nya untuk selamanya!
Diposting oleh Ayu ViDya

Selasa, 28 Januari 2014

Label: Renungan 0 komentar
di 17.32

Dimurnikan dalam Dapur Api



Dimurnikan dalam Dapur Api
Oleh: Derek Prince

Janji TUHAN adalah janji yang murni (Perkataan Tuhan adalah perkataan yang tidak ada cacatnya, versi bahasa Inggris) bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Mazmur 12:7
Perkataan (janji) yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah kata-kata yang terdapat dalam Alkitab. Perkataan tersebut benar-benar tidak ada cacatnya – tidak ada kesalahannya atau kekeliruannya – suatu kebenaran yang mutlak dan dapat dipercaya sepenuhnya. Anda mungkin meragukan pernyataan tersebut, karena Anda pun mengetahui bahwa kata-kata itu disampaikan manusia sebagai perantaranya, padahal manusia adalah makhluk yang lemah, cenderung berbuat salah dan banyak melakukan kekeliruan. (Dan berbagai kecerobohan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang menjadi perantara itu memang sering didapati dalam Alkitab). Jika demikian, bagaimana mungkin isi Alkitab itu merupakan kebenaran yang memiliki otoritas mutlak yang tak ada kesalahannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut Daud memberikan ilustrasi yang menarik sekali yaitu tentang orang yang memurnikan perak dalam sebuah tanur yang terbuat dari tanah liat. (Tanur seperti itu hingga sekarang masih banyak dipakai di kawasan Timur Tengah). Dalam gambaran Daud itu terdapat tiga unsur utama: tanur dari tanah liat; perak yang harus dimurnikan; dan api yang memurnikan.
Tanur dari tanah liat itu menggambarkan makhluk manusia yang dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyampaikan perkataan [Sabda]-Nya. Perak dalam gambaran Daud itu menggambarkan perkataan [Sabda] Tuhan yang disampaikan. Sedangkan api yang memurnikan itu menggambarkan pekerjaan Roh Kudus. Perak itu menjalani proses pemurnian hingga “tujuh kali”. Dalam Alkitab angka tujuh secara khusus digabungkan dengan Roh Kudus sebagai “tujuh obor menyala-nyala” (Wahyu 4:5). Selain itu, angka tujuh juga menggambarkan kesempurnaan.
Pada waktu kata-kata Tuhan disampaikan kepada kita melalui tanur yang terbuat dari tanah liat atau insan manusia itu, kata-kata tersebut dimurnikan secara sempurna oleh api Roh Kudus. Semua “kotoran” berupa kesalahan atau kecerobohan manusia telah dikeluarkan sama sekali. Dengan demikian kata-kata tersebut menjadi sempurna, tak ada kesalahannya.
“Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (II Petrus 1:21).
Tanggapan Iman:
“Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih daripada ribuan keping emas dan perak” (Mazmur119:72).
Diposting oleh Ayu ViDya Label: Renungan 0 komentar
di 17.31
Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates